Header Ads

Wanita Asal Wonogiri Ikut  Jadi  Korban Tewas  Tabrakan Kereta  Maut DI Bekasi




Wonogiri (mediarakyatkita.com).  

Suasana duka menyelimuti sebuah rumah sederhana di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Selasa (28/4/2026).

Seorang wanita perantau asal Wonogiri yang selama ini bekerja di wilayah Jabodetabek dipastikan menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam tragedi tabrakan maut antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam.


Perempuan tersebut diketahui sehari-hari merantau demi membantu perekonomian keluarga. Ia dikenal sebagai sosok pekerja keras, istri sekaligus anak yang rutin mengirim kabar dan nafkah untuk keluarga di kampung halaman.


Namun takdir berkata lain …


Senin malam sekitar pukul 20.52 WIB, KRL yang ia tumpangi berhenti di jalur Stasiun Bekasi Timur setelah sebelumnya terjadi insiden lain di perlintasan sebidang. Dalam waktu yang sangat singkat, dari arah belakang melaju KA Argo Bromo Anggrek yang kemudian menghantam keras bagian ekor KRL.


Nahasnya, gerbong yang ditumpangi korban adalah gerbong khusus wanita yang berada tepat di bagian paling belakang rangkaian. Gerbong itu menjadi titik hantaman paling parah hingga ringsek nyaris setengah badan kereta masuk ke dalam.


Petugas Basarnas menyebut mayoritas korban tewas bahkan seluruh korban meninggal berasal dari gerbong wanita tersebut. Hingga Selasa siang, data korban meninggal mencapai 14 hingga 15 orang dengan 84 korban luka.


📞 KELUARGA DI WONOGIRI AWALNYA MASIH BERHARAP


Sesaat setelah kabar kecelakaan besar di Bekasi muncul di televisi dan media sosial, keluarga korban di Wonogiri mulai panik.

Suami, dan kerabat terus mencoba menghubungi ponsel korban.


Namun berkali-kali telepon dilakukan, tidak ada jawaban.


Mereka masih berharap korban hanya mengalami keterlambatan pulang atau ponselnya mati.


Suami korban bahkan sempat menenangkan keluarga dengan keyakinan bahwa istrinya pasti selamat karena biasanya korban selalu memberi kabar usai bekerja.


Sayangnya menjelang dini hari, harapan itu runtuh.


Nama korban masuk dalam daftar jenazah yang berhasil diidentifikasi di RSUD Bekasi. Kabar itu sontak membuat keluarga histeris. Tangis pecah di rumah keluarga karena tak ada yang menyangka perempuan yang berangkat mencari nafkah justru pulang dalam keadaan tak bernyawa.


🚑 PERJALANAN PANJANG MENJEMPUT JENAZAH DARI BEKASI


Setelah identitas korban dipastikan, dan seluruh proses selesai, jenazah korban diberangkatkan menuju kampung halaman di Wonogiri menggunakan ambulans.


Perjalanan ratusan kilometer itu berubah menjadi perjalanan duka.


Di sepanjang jalan keluarga hanya bisa menahan tangis, menunggu momen terakhir bertemu dengan sosok yang sebelumnya masih sehat berjuang mencari rezeki di tanah rantau.


😭 JENAZAH TIBA DI WONOGIRI, AYAH DAN SUAMI LANGSUNG MENANGIS PECAH


Selasa siang, ambulans akhirnya tiba di rumah duka pada pukul 16.15 WIB  (28 April 2026) 


Begitu pintu ambulans dibuka dan peti jenazah diturunkan, ayah korban langsung tak kuasa menahan kesedihan. Ia menangis histeris sambil memeluk peti anak perempuannya.


Sang suami yang sejak malam menahan diri pun akhirnya terduduk lemas. Isak tangis keluarga pecah bersamaan dengan kedatangan para tetangga yang ikut melayat.


Suasana rumah duka mendadak berubah menjadi lautan air mata.


Warga sekitar mengaku syok karena korban dikenal baik dan tidak pernah menyangka kepulangan korban dari perantauan justru dalam balutan kain kafan.


Kalimat yang terus terdengar dari mulut para pelayat hanya satu:


“Berangkat cari nafkah … pulang tinggal jenazah.”


⚫ TRAGEDI INI MENJADI LUKA MENDALAM BAGI KELUARGA PERANTAU


Kisah wanita asal Wonogiri ini kini menjadi simbol pilunya tragedi Bekasi Timur.


Ia bukan sekadar angka dalam daftar korban meninggal, tetapi seorang anak yang ditunggu orang tua, seorang istri yang dinanti suami, dan tulang punggung keluarga yang pergi terlalu cepat.


Satu malam telah mengubah semuanya.


Dari gerbong wanita yang ringsek di Bekasi … hingga tangis pecah di rumah duka Wonogiri.


Sebuah perjalanan yang seharusnya pulang kerja, berubah menjadi perjalanan pulang untuk selamanya, dan saat itu dari keluarga media tidak diperbolehkan mengambil gambar saat korban di rumah duka hingga selesai acara pemulasaraannya. (prio/timred)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.