“Lirik Lurik Lerek”, Ketika Kain Tradisional Bertutur dalam Mode Kontemporer
YOGYAKARTA, Di tengah denyut kreatif Kota Yogyakarta, Sabtu (14/2/2026) sore menjadi panggung bagi perjumpaan tradisi dan modernitas. Bertempat di Grand Diamond Hotel Yogyakarta, House of L’Mar bersama manajemen hotel menggelar edisi keempat acara bulanan bertajuk Fashion Show dan Pameran Bercerita. Mengusung tema “Lirik Lurik Lerek”, lurik tidak lagi diposisikan sekadar kain tradisional, melainkan medium narasi yang hidup dalam balutan mode kontemporer.
Sejak pukul 16.00 hingga 18.00 WIB, ruang pertunjukan dipenuhi antusiasme tamu dan pelaku industri kreatif. Lurik—wastra khas Jawa dengan garis-garis sederhana namun sarat makna—ditafsir ulang menjadi busana modern yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Dalam tangan para perancang, kain ini menjelma sebagai simbol identitas sekaligus ekspresi artistik.
Empat desainer tampil mempresentasikan koleksi terbaik mereka, yakni Dewi Roesdji, Melati Soedjarwo, Fariz Ashar, dan Dina Rosaria. Masing-masing menghadirkan karakter desain yang berbeda, namun berpijak pada satu benang merah: eksplorasi lurik sebagai fondasi utama karya. Siluet tegas, permainan struktur, hingga detail kontemporer memperlihatkan bagaimana kain tradisional mampu berdialog dengan estetika masa kini.
Koleksi tersebut diperagakan oleh anggota Angels Community dalam format peragaan busana yang dinamis. Langkah para model di atas runway menghadirkan energi segar sekaligus memperkuat pesan bahwa wastra Nusantara dapat tampil percaya diri di ruang-ruang modern Ujar : Lia Mustafa:Selasa/17/02/2026 Saat di hubungi lewat sambujgan telpon
Lia Mustafa selaku Owner House of L’Mar, menegaskan bahwa dunia fesyen di Yogyakarta tidak pernah mati. Justru, menurut dia, kota ini terus melahirkan ruang-ruang kreatif yang memberi kesempatan bagi para desainer untuk bereksperimen dan berkolaborasi.
“Yogyakarta memiliki ekosistem yang hidup. Dunia fashion di Jogja tidak pernah mati karena selalu ada komunitas, hotel, ruang publik, dan pelaku industri yang mau bergerak bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan ini diharapkan menjadi pengantar menuju ajang Fashion Show on the Street (FOS) Prawirotaman yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang. Sebagai project officer FOS 2026, Lia berharap acara bulanan tersebut dapat memperkenalkan nuansa perhelatan mode berbasis ruang publik kepada masyarakat sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas komunitas.
Kolaborasi antara House of L’Mar dan Grand Diamond Hotel Yogyakarta, lanjutnya, akan terus berlanjut sebagai komitmen menghadirkan ruang kreatif yang inklusif, mendukung para desainer, serta memperkuat ekosistem fesyen berbasis budaya dan narasi.
Melalui “Lirik Lurik Lerek”, lurik kembali menemukan relevansinya. Bukan hanya sebagai warisan tekstil, melainkan sebagai bahasa visual yang mampu merespons zaman—menyatukan tradisi, kreativitas, dan semangat kolaborasi dalam satu panggung mode.Tutup:Lia(Satrio)

Post a Comment