Bumkal Tamantirto Sukses Atasi Sampah Residu Ramah Lingkungan
![]() |
| Penampakan Tungto BumKal Tamantirto Kapanewon Kasihan, Kab. Bantul, DIY (Ft. Hislam) |
Bantul, (Mediaralyatkita.com)
Persoalan sampah hingga saat ini masih menjadi momok di tengah masyarakat. Belum lagi, fasilitas tempat pembuangan akhir yang telah disediakan pemerintah juga belum madai sehingga penyelesaian masalah sampah ini tak kunjung menemukan solusinya.
Namun, ada kabar gembira datang dari Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengenai penanganan sampah agar bisa dituntaskan. Terutama sampah residu atau karib disebut sampah tak bisa dimanfaatkan secara ekonomis.
Mungkin banyak yang belum. tahu, bahwa di Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, berhasil menemukan solusi penanganan sampah melalui teknologi tobong tungku (Tongtu). Penemuan penanganan sampah di Kalurahan ini ditangani langsung oleh Badan Usaha Milik Kalurahan (Bumkal) Taman Tirto.
Ketua Bumkal Tamantirto, Widyawati membenarkan jika pihaknya telah menemukan teknologi penanganan sampah, terutama sampah residu.
"Sampah residu itu, yang tidak bisa dimanfaatkan. Sampah tak bernilai ekonomi seperti pempes atau gabus yang tidak layak jual. Dan sampah-sampah itu, yang tidak bisa didaur ulang," ujar Widyawati ditemui di lokasi penanganan sampah yang telah dikelolah.
Dijelaskan Widyawati, saat ini pihaknya telah mengelola penanganan sampah melalui teknologi Tongtu. Melalui Tongku ini bisa menyelesaikan sampah residu dengan baik, aman, nyaman, ramah lingkungan dan buangan emisi kurang.
"Melalui teknologi Tunggu kami bisa menyelesaikan 3 sampai 4 ton sampah residu setiap hari. Baru 4 tinggal karena belum memiliki lahan yang cukup untuk menampung volume sampah di atas 4 ton setiap hari," kata Widyawati.
Sementara itu, Syamsul Aidi, Pelaksana TTG (Teknologi Tepat Guna) Tongtu menambahkan bahwa saat ini penanganan sampah residu di tempatnya betul masih sangat terbatas karena baru bisa menangani 4 ton sehari.
Teknologi penanganan sampah kata Syamsul Adi, pihaknya mengunakan Tongtu pembakaran. Namun dalam proses pembakaran dilakukan tidak mengganggu lingkungan karena buangan emisi dikeluarkan sangat minim sekali. Termasuk bau tidak ada dan buangan abu hanya 5 persen dalam satu ton sampah.
"Abunya u tuk sementara kami manfaatkan untuk bahan urug. Dan kalau abunya banyak bisa dimanfaatkan u tuk bahan baku batako dan sejenisnya," sebut Syamsul.
"Yang jelas penanganan sampah melalui Tongtu ini sangat ramah lingkungan karena buangan emisi memang sangat minim," timpal Widyawati.
Masih kata Syamsul, pembuatan Tongtu sangat mudah karena bahan yang digunakan mudah di dapat. Artinya mudah di dapat itu karena bahan lokal, bukan bahan impor segala.
Baik Widyawati maupun Syamsul berharap ke depan, pihaknya bisa memiliki lahan representatif untuk mengembangkan Tongtu ini karena hanya melalui teknologi Tongtu tersebut, sampah yang masih menjadi momok di masyarakat bisa teratasi dengan baik dan ramah lingkungan.
Jurnalis : Him
Editor : Hislam

Post a Comment