Jelang Lebaran, Gas Elpiji 3 Kg Mulai Langka di Kabupaten Magelang
Magelang (mediarakyatkita.com). Menjelang lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah, gas elpiji 3 Kg bersubsidi di wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mulai langka. Akibatnya, sejumlah ibu-ibu rumah tangga, panik.
Anehnya, gas elpiji 3 Kg bersubsidi ini meski langka diperoleh dari pangkalan resmi gas elpiji 3 Kg dan stok tidak tersedia terapi di kios-kios kelontong justru gas tersebut mudah didapat dengan harga tinggi.
Pantauan jurnalis di lapangan pada Senin, 16 Maret 2026, gas elpiji 3 kg mengalami kekososngan di sejumlah pangkalan. Salah satunya, pangkalan elpiji di Jalan Trayem - Ngluwar tak jauh dari SMAN 1 NGluwar, Desa Ploso.
Di pangkalan ini diketahui stok gas elpiji 3 kg kosong. Anehnya, saat ditanya jurnalis terkait gas 3 kg ini kapan gas subsidi ini datang di tempatnya. Namun, seorang penjaga pangkalan mengatakan sedang dikirim hanya saja gas subsidi di maksud sudah habis dipesan oleh orang-orang sembari menunjukkan jari ke gas hijau ukuran 3 kg yang tersusun di depan gerai pangkalannya.
"Kabarnya sudah mau datang, tapi gasnya sudah habis juga dipesan orang-orang," sebut seorang wanita penjaga Pangkalan Gas Elpiji di Trayem ini, Senin (16/3/2026) siang.
Saat ditanya orang-orang di maksud yang sudah pesan, wanita tersebut mengakui jika orang-orang itu adalah pihak pengecer.
Ketua Analis Kebijakan Publik Magelang Raya, H. Muhammad, S.Pd yang mengetahui hal ini mengaku kaget jika pihak pangkalan resmi gas elpiji 3 kg menjual gas subsidi ke pengecer ketimbang ke pengguna langsung.
Pasalnya, fungsi pangkalan gas elpiji 3 kg melayani langsung pengguna gas tersebut dan bukan untuk dijual ke pihak pengecer.
Ketua Analis Kebijakan Publik inipun mendesak Satgas Pangan baik dari kepolisian maupun Pemkab Magelang untuk mengawasi penyaluran gas elpiji 3 kg di pangkalan-pangkalan agar gas bersubsidi ini tidak di salah gunakan oknum pengelola agen dan pangkalan elpiji.
"Kalau tidak dilakukan pengawasan distribusi gas bersubsidi jadinya yang menikmati untung besar adalah pengecer. Padahal gas subsidi ini dari pangkalan wajib langsung ke pengguna. Bukan untuk pengecer dan dijual lagi dengan harga tinggi," tegas Muhammad, Senin (16/3/2026).
Ia mengakui bahwa beberapa pangkalan juga mengalami kekosongan stok gas elpiji bersubsidi. Karena itu, statement Menteri ESDM yang menyatakan bahwa pihaknya menambah pasokan gas elpiji subsidi jelang lebaran tahun 2026 ini, tidak sesuai fakta di lapangan. Hal itu dilihat dari keberadaan gas 3 kg ini kini langka dan sulit didapat di pangkalan.
"Anehnya, gas bersubsidi ini adanya kita dapatkan di penjual eceran sedangkan di pangkalan resmi, justru kosong," tandasnya.
Sementara itu, Ibu Setiawati (43) , warga Jamuskauman, Kecamatan Ngluwar mengakui sejak pagi ia berkeliling mencari gas 3 kg. Namun, hingga siang tak kunjung dapat. Ia juga datang ke salah satu pangkalan di Jalan Trayem - Ngluwar, tetapi gas dimaksud kosong.
"Keliling saya cari gas subsidi ini. Tpi tidak ada. Banyak ibu-ibu yang lain mencari, hasilnya sama kosong," katanya.
Ia khawatir, jika gas 3 kg ini langka sementara lebaran Idul Fitri sudah sangat dekat akan terganggu aktifitas di dapur. Ibu rumah tangga satu ini meminta pemerintah dan penegak hukum untuk respon cepat terhadap kelangkaan gas elpiji 3 kg tersebut.
"Minta tolonglah sama pemerintah dan Pertamina buat menambah lagi pasokan gas ini, jangan sampai masyarakat dibuat kesusahan apalagi mau menyambut lebaran esok," pungkas Setiawati diamini ibu-ibu yang lain.
Setiawati mengakui dirinya baru mendapat elpiji 3 kg disalah satu kuis kelontong di wilayah Ploso Gede dengan harga tinggi Rp24.000 per tabung ukuran 3 kg. (Muis)

Post a Comment