GKR Bendara Dorong Pengembangan Ekosistem Wellness Berbasis Budaya melalui JCWF 2026
Yogyakarta (media rakyat kita.com).
---Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026 akan kembali digelar pada 6–8 November 2026. Festival yang mengusung tema “RECONNECT—Reconnecting People, Culture & Wellbeing” itu diharapkan menjadi ruang untuk membangun ekosistem wisata wellness yang berakar pada budaya Yogyakarta.
Ketua Umum JCWF 2026, GKR Bendara, mendorong agar potensi budaya, komunitas, pariwisata, kesehatan, dan ekonomi kreatif di Yogyakarta dapat terhubung dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Koordinator Marketing dan Komunikasi (Markom) JCWF 2026, Agus Budi Rachmanto, mengatakan persiapan penyelenggaraan festival terus dilakukan dengan melibatkan berbagai komunitas dan pemangku kepentingan.
“JCWF tahun ini akan kembali digelar dengan semangat membangun keterhubungan antara manusia, budaya, dan wellbeing,” kata Agus saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (3/9/2026).
Menurut Agus, persiapan festival telah dimulai melalui pertemuan para pegiat dan komunitas wellness yang berlangsung di Ndalem Poenakawan, Yogyakarta, Selasa (1/9/2026).
Pertemuan yang berlangsung pukul 14.00–17.00 WIB tersebut membahas kolaborasi berbagai pihak untuk memperkuat pengembangan wisata wellness berbasis budaya di Yogyakarta.
JCWF 2026 akan dipusatkan di Loman Park Hotel, Yogyakarta, serta melibatkan sejumlah ruang komunitas, destinasi budaya, dan pelaku wellness di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Bukan Sekadar Relaksasi
Agus mengatakan, perkembangan wisata wellness saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan relaksasi, kebugaran, atau layanan kesehatan.
Wisatawan, menurut dia, mulai mencari pengalaman yang lebih personal dan autentik, termasuk kesempatan untuk mengenal budaya lokal serta membangun hubungan dengan alam dan masyarakat.
“Karena itu, wellness tidak bisa dipandang sebagai satu sektor yang berdiri sendiri. Ada budaya, komunitas, kesehatan, pariwisata, dan lingkungan yang saling berkaitan,” ujar Agus.
Dalam persiapan JCWF 2026, sejumlah pemangku kepentingan dilibatkan, antara lain Dinas Pariwisata DIY, Dinas Kebudayaan DIY, Dinas Kesehatan DIY, Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), Indonesian Society of Travel Agents (ASTINDO), Indonesian Event Industry Council (IVENDO), serta Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).
Selain itu, terdapat pula Forum Komunikasi Desa Wisata, Dewan Jamu, rumah sakit, serta berbagai komunitas wellness dan budaya.
Komunitas tersebut antara lain Bali Usada, Jemparingan Keraton, Tari Klasik Keraton, Gamelan Sound Healing Nglanggeran, dan Desa Wisata Sidorejo.
Menurut Agus, keterlibatan berbagai pihak menunjukkan bahwa Yogyakarta sebenarnya telah memiliki modal yang kuat untuk mengembangkan wisata wellness.
“Tantangannya adalah bagaimana berbagai potensi yang sudah ada itu dapat dihubungkan dan berkembang dalam satu ekosistem,” katanya.
Budaya sebagai Pengalaman
Salah satu kekuatan yang akan dikembangkan dalam JCWF 2026 adalah warisan budaya takbenda.
Budaya tidak hanya diposisikan sebagai atraksi wisata, melainkan sebagai pengalaman yang dapat memberikan manfaat bagi keseimbangan hidup.
Jemparingan, misalnya, tidak hanya dipahami sebagai olahraga atau permainan tradisional, tetapi juga dapat menjadi sarana melatih konsentrasi dan pengendalian diri.
Begitu pula gamelan yang dapat menghadirkan pengalaman tentang ritme dan ketenangan. Tari dipahami sebagai bagian dari kesadaran tubuh, sedangkan jamu menjadi representasi pengetahuan tradisional masyarakat mengenai kesehatan dan hubungan manusia dengan alam.
Pendekatan tersebut, menurut Agus, penting untuk menghidupkan kembali nilai budaya dalam kehidupan masyarakat modern.
Nilai-nilai lokal seperti srawung, unggah-ungguh, gotong royong, hamemayu hayuning bawana, serta keselarasan dengan alam dinilai masih relevan untuk dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wellness.
Namun, pengembangan budaya untuk sektor pariwisata tetap harus dilakukan dengan menjaga makna dan nilai yang terkandung di dalamnya.
“Budaya tidak hanya ditampilkan, tetapi bagaimana orang dapat memahami dan mengalami nilai yang ada di dalam budaya tersebut,” ujar Agus.
Tiga Pilar RECONNECT
Tema RECONNECT menjadi dasar utama penyelenggaraan JCWF 2026.
Konsep tersebut dibagi dalam tiga pilar, yakni Reconnect People, Reconnect Culture, dan Reconnect Wellbeing.
Reconnect People menekankan pentingnya membangun kembali hubungan antarmanusia dan memperkuat kehidupan komunitas.
Reconnect Culture mengajak masyarakat untuk memahami kembali nilai dan makna yang terkandung dalam warisan budaya.
Sementara Reconnect Wellbeing menempatkan kesehatan dan keseimbangan hidup sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hubungan manusia dengan lingkungan, budaya, dan masyarakat.
Ketiga pilar tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan wisata wellness di Yogyakarta.
Manfaat bagi Komunitas
Selain memperkuat sektor pariwisata, JCWF 2026 juga diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat dan komunitas.
Pengembangan cultural wellness diharapkan mampu menciptakan hubungan antara nilai budaya, komunitas lokal, pengalaman wisata, produk pariwisata, dan ekonomi masyarakat.
Namun, manfaat ekonomi tersebut harus tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan budaya.
Komunitas sebagai pemilik pengetahuan dan pelaku budaya diharapkan tidak hanya menjadi pelengkap kegiatan, tetapi memperoleh ruang dan manfaat yang layak dari pengembangan ekosistem wellness.
Melalui JCWF 2026, Yogyakarta ingin memperkenalkan pendekatan wisata wellness yang berangkat dari kekuatan lokal.
Bukan sekadar menawarkan relaksasi atau kebugaran, melainkan pengalaman untuk kembali terhubung dengan manusia, budaya, alam, dan diri sendiri.
Agus Budi Rachmanto menegaskan, keterlibatan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam mewujudkan tujuan tersebut.
Menurut dia, JCWF 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah agenda festival, tetapi dapat menjadi ruang kolaborasi yang mendorong tumbuhnya ekosistem wellness berbasis budaya secara berkelanjutan di Yogyakarta.
Jogja Cultural Wellness Festival 2026 akan berlangsung pada 6–8 November 2026 di Loman Park Hotel, Yogyakarta, dengan melibatkan berbagai komunitas, pelaku pariwisata, praktisi kesehatan, dan pegiat budaya. Tutup: Agus. (Tyo)

Post a Comment